detakpublik, CIANJUR — Ribuan ekor ikan budidaya di kawasan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jangari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mati secara massal sejak sepekan terakhir. Fenomena ini memicu kerugian hingga miliaran rupiah bagi para pembudidaya ikan lokal akibat gagal panen secara total.
Peristiwa yang merusak puluhan ton ikan mas dan nila tersebut diduga kuat dipicu oleh fenomena upwelling yakni pembalikan massa air dari dasar waduk ke permukaan yang membawa endapan racun serta menurunkan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) secara drastis. Penumpukan gulma eceng gondok dan sampah di permukaan air turut memperburuk sirkulasi oksigen di kawasan Waduk Cirata tersebut.
Salah seorang petani KJA setempat, Anang Mansyur (53), mengungkapkan bahwa kematian mendadak ini berlangsung sangat cepat sehingga para pengelola keramba tidak sempat melakukan tindakan penyelamatan atau evakuasi mandiri.
“Ikan di empat kolam milik saya mati total. Jika diakumulasikan dengan KJA milik pembudidaya lain, volume ikan yang mati diperkirakan mencapai 50 ton,” ujar Zainal saat ditemui pada Ranu (22/7/2026).
Kerugian Finansial dan Ancaman Jeratan Utang
Kerugian yang ditanggung para petani tidak hanya berupa hilangnya potensi pendapatan panen, melainkan juga membengkaknya beban operasional yang telah dikeluarkan selama masa pemeliharaan, seperti biaya pakan, bibit, dan perawatan sarana keramba.
Anwar (50), pembudidaya KJA lainnya, membeberkan bahwa musibah ini memaksa sebagian besar petani menanggung beban utang yang menumpuk kepada pengepul (bandar).
“Tahun ini jangankan meraup untung, kami justru terjerat utang ke bandar untuk menutupi modal pakan dan bibit yang sudah terlanjur dipinjam. Selama ini kami menjalankan usaha secara mandiri tanpa adanya jaring pengaman atau bantuan dari pemerintah,” tutur Anwar.
Mendesak Intervensi dan Early Warning System Pemerintah
Menanggapi krisis yang berulang di perairan Jangari ini, para pembudidaya mendesak Pemerintah Kabupaten Cianjur serta dinas terkait untuk segera turun tangan memberikan solusi konkret.
Selain mengharapkan stimulan berupa bantuan benih dan subsidi pakan untuk pemulihan ekonomi pascabencana, para petani menekankan pentingnya edukasi teknis dan penyediaan sistem peringatan dini (early warning system).
Keberadaan sistem deteksi dini dinamika kualitas air dan potensi upwelling dinilai krusial agar pembudidaya dapat mengambil langkah antisipatif seperti melakukan panen lebih awal sebelum bencana hidro-meteorologis lokal tersebut kembali menerjang.












