detakpublik, CIANJUR – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur mengklaim angka anak tidak sekolah (ATS) di wilayahnya mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2026.
Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ruhli Solehudin, mengatakan, penurunan tersebut merupakan hasil dari langkah cepat pemerintah daerah dalam melakukan pendataan dan verifikasi ulang data ATS berdasarkan rilis Pusdatin tahun 2025.
“Angka putus sekolah sebagaimana kita ketahui dari data Pusdatin 2025, kami langsung gerak cepat sesuai arahan bupati. Pertama kami melakukan pendataan, kemudian memetakan berdasarkan zonasi agar diketahui mana data yang benar-benar valid dan mana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya kepada Awak media Rabu 1/4/2026
Dia menjelaskan, data dari pusat tetap memerlukan validasi ulang di daerah. Hal ini karena ditemukan sejumlah ketidaksinkronan, seperti data yang belum terbarui di sistem Dapodik, data ganda, hingga data siswa yang sebenarnya sudah lulus, pindah, atau bahkan meninggal dunia namun masih tercatat.
“Misalnya data DTKS yang belum sinkron, ada juga data ganda, atau yang sudah pindah dan lulus tapi belum terhapus dari Dapodik. Itu semua kami verifikasi ulang,” katanya.
Dari hasil verifikasi tersebut, Disdikpora mencatat penurunan angka ATS di Kabupaten Cianjur mencapai sekitar 30 persen pada tahun 2026.
Sebagai tindak lanjut, Disdikpora juga membuka berbagai program pembelajaran untuk menekan angka ATS lebih jauh. Bagi anak usia sekolah, mereka langsung diarahkan kembali ke sekolah sesuai zonasi. Sementara bagi yang berada di luar usia sekolah, disediakan kelompok belajar.
“Untuk usia wajar langsung kami masukkan ke sekolah masing-masing sesuai zonasi. Sedangkan di luar usia, kami buka kelompok-kelompok belajar,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga merencanakan pembentukan kelompok belajar di setiap desa. Dari total sekitar 360 desa di Kabupaten Cianjur, program ini ditargetkan mampu mengakomodasi kebutuhan pendidikan bagi anak tidak sekolah, dengan pembentukan sekitar 32 kelompok belajar di setiap kecamatan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Disdikpora optimistis angka anak tidak sekolah di Cianjur akan terus menurun ke depannya.












