Inflasi Bahan Baku Plastik Hantam UMKM Cianjur, Harga Meroket hingga 100%

Berita, Bisnis49 Dilihat
banner 468x60

detak publik, CIANJUR — Tekanan terhadap sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Cianjur kian menguat seiring lonjakan harga bahan baku plastik yang dalam sejumlah komoditas mencapai hingga dua kali lipat. Kenaikan ini dipicu ketidakstabilan geopolitik global serta terganggunya rantai pasok internasional, terutama untuk bahan berbasis polimer impor.

Kenaikan harga mulai terasa sejak Februari 2026, namun mengalami akselerasi signifikan setelah momentum Lebaran. Komoditas plastik berbahan dasar polypropylene (PP) menjadi yang paling terdampak, mengingat tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

banner 336x280

Distributor plastik di Cianjur, Intan Suhartini, mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis kemasan mengalami kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir.

“Setelah Lebaran, kenaikannya melonjak drastis. Saat ini hampir tidak ada produk plastik yang naik di bawah 30 persen,” ujarnya, Senin (10/4/2026).

Ia merinci, harga plastik bening naik dari kisaran Rp35 ribu menjadi Rp52 ribu per kilogram. Sementara kantong kresek murni mengalami lonjakan hingga 100 persen, dari Rp18 ribu menjadi Rp36 ribu. Kenaikan juga terjadi pada produk turunan lain seperti toples plastik, yang turut membebani biaya distribusi pelaku usaha.

Kondisi tersebut menempatkan pelaku UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman, pada posisi dilematis. Kemasan plastik yang merupakan komponen vital dalam produksi kini menjadi sumber tekanan biaya yang signifikan.

Pelaku UMKM olahan pangan, Yeti Hernawati, menyebutkan bahwa kenaikan ini memaksa pelaku usaha menghitung ulang harga pokok produksi (HPP). Namun, penyesuaian harga jual di pasar tidak bisa dilakukan secara leluasa.

“Kalau produk dititipkan di toko oleh-oleh, kenaikan harga tidak bisa langsung diterapkan. Harus melalui persetujuan dan biasanya dibatasi, rata-rata hanya sekitar Rp2.000. Akibatnya, margin keuntungan semakin tergerus,” jelasnya.

Situasi tersebut membuat banyak pelaku usaha memilih strategi bertahan dengan menaikkan harga secara bertahap, bahkan sebagian menahan harga jual demi menjaga daya beli konsumen. Dampaknya, profitabilitas usaha menurun di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

Secara makro, tren kenaikan harga plastik diperkirakan masih akan berlanjut selama gangguan rantai pasok global belum pulih sepenuhnya. Ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi faktor utama yang memperbesar kerentanan pasar domestik terhadap gejolak eksternal.

Dalam merespons kondisi ini, pelaku UMKM mulai melakukan berbagai langkah adaptasi, seperti mengefisienkan penggunaan kemasan hingga mencari alternatif bahan substitusi. Namun, keterbatasan pilihan yang terjangkau membuat sebagian besar masih bertahan menggunakan plastik konvensional.

Kenaikan harga bahan baku ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan UMKM di Cianjur, yang sebelumnya mulai menunjukkan pemulihan pasca peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Lebaran. Di tengah tekanan biaya dan keterbatasan ruang penyesuaian harga, daya tahan pelaku usaha kembali diuji.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *