detakpublik, CIANJUR — Berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak pada ketersediaan air di sejumlah daerah irigasi di wilayah selatan Kabupaten Cianjur. Fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) yang terjadi belakangan ini menyebabkan debit air pada beberapa jaringan irigasi mengalami penurunan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah VI Pagelaran yang juga menjabat Kepala UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah V Sukanagara, MM Kurniawan, mengatakan hasil pemantauan lapangan menunjukkan adanya penyusutan debit air di sejumlah titik irigasi yang menjadi sumber pasokan bagi lahan pertanian masyarakat.
Beberapa daerah irigasi yang terpantau mengalami penurunan debit di antaranya Daerah Irigasi (DI) Cireundeu di Kecamatan Tanggeung dan DI Cilumut Pasirkerud di wilayah Pagelaran.
“Monitoring lapangan terus kami lakukan untuk memastikan kondisi sumber air dan jaringan irigasi tetap terpantau. Langkah ini penting sebagai upaya antisipasi menghadapi potensi musim kemarau serta menjaga kontinuitas pasokan air bagi lahan pertanian,” kata Kurniawan, Senin (22/6/2026).
Meski debit air menunjukkan tren penurunan, Kurniawan memastikan kondisi tersebut belum mengganggu kebutuhan irigasi untuk sektor pertanian. Berdasarkan hasil evaluasi teknis, volume air yang tersedia saat ini masih dinilai cukup untuk mendukung kebutuhan pengairan hingga berakhirnya Musim Tanam (MT) II.
Menurutnya, karakteristik sumber air di setiap daerah irigasi berbeda. Bahkan pada beberapa lokasi tertentu, kondisi debit air saat musim kemarau justru cenderung lebih stabil dibandingkan ketika musim hujan.
“Ada beberapa daerah irigasi yang kondisinya relatif baik saat kemarau. Salah satunya DI Batu Beureum yang debit airnya tetap terjaga,” ujarnya.
UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah V Sukanagara memiliki cakupan layanan yang cukup luas, meliputi Kecamatan Sukanagara, Kadupandak, Cijati, dan Takokak. Di wilayah tersebut terdapat 36 daerah irigasi yang terdiri atas lima jaringan irigasi teknis dan 31 jaringan irigasi sederhana.
Seluruh jaringan tersebut melayani areal pertanian seluas sekitar 7.800 hektare yang mencakup lahan persawahan, perkebunan, serta berbagai komoditas pertanian lainnya. Dengan cakupan yang luas tersebut, keberlangsungan pasokan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan di kawasan selatan Cianjur.
Pemerintah melalui UPTD terkait akan terus meningkatkan pengawasan terhadap kondisi sumber air dan distribusi irigasi guna mengantisipasi dampak musim kemarau, sekaligus memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi hingga masa tanam berakhir











