Nelayan Cianjur Selatan Hadapi Tantangan Ganda: BBM Langka, Musim Ikan Belum Tiba dan Beban Operasional Meningkat

Berita, Cianjur28 Dilihat
banner 468x60

detakpublik, CIANJUR — Ratusan nelayan di Pelabuhan Jayanti, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, menghadapi tekanan ganda yang mengancam produktivitas sektor perikanan tangkap. Di tengah belum datangnya musim ikan, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar serta minimnya fasilitas kolam labuh yang dinilai belum mampu mengakomodasi jumlah armada nelayan.

Ketua Rukun Nelayan Kabupaten Cianjur, Cacu Supriadi, mengatakan pasokan solar di SPBU setempat masih belum stabil. Kondisi tersebut kerap menjadi kendala ketika cuaca bersahabat dan aktivitas melaut meningkat karena kebutuhan BBM melonjak dalam waktu bersamaan.

banner 336x280

“Saat cuaca bagus, otomatis kebutuhan BBM meningkat karena ratusan perahu berangkat melaut. Namun, stok solar di SPBU sering kali tidak mencukupi,” ujar Cacu, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut semakin membebani nelayan yang saat ini tengah memasuki masa paceklik akibat pengaruh angin selatan. Pada periode tersebut, hasil tangkapan ikan turun signifikan, dari potensi 80 hingga 100 kilogram saat musim ikan menjadi hanya sekitar 15–20 kilogram per nelayan dalam sekali melaut.

Di sisi lain, biaya operasional terus mengalami kenaikan. Harga perlengkapan melaut terdampak meningkatnya biaya distribusi dan BBM, sementara harga jual ikan di tingkat nelayan masih berfluktuasi sehingga keuntungan yang diperoleh belum mampu menutup tingginya biaya produksi.

Selain persoalan logistik, nelayan juga menilai keterbatasan infrastruktur pelabuhan menjadi persoalan yang harus segera ditangani. Cacu menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan kolam labuh yang representatif untuk melindungi armada nelayan, bukan sekadar bantuan tunai.

Saat ini Pelabuhan Jayanti memiliki sekitar 900 unit perahu, dengan rata-rata 490 unit beroperasi setiap hari dan meningkat pada musim tenang. Namun, kolam labuh yang tersedia hanya mampu menampung sekitar 60 unit perahu atau sekitar 6,6 persen dari total armada.

Akibat keterbatasan tersebut, sebagian besar perahu terpaksa ditambatkan di luar kawasan yang aman sehingga rentan terdampak gelombang tinggi maupun cuaca ekstrem. Tahun lalu, sedikitnya 76 perahu dilaporkan hanyut, mengalami kerusakan, bahkan kehilangan mesin setelah diterjang cuaca buruk.

“Kapasitas kolam labuh sangat tidak memadai. Banyak perahu terpaksa ditambatkan di luar area aman. Tahun lalu ada 76 perahu hanyut, rusak hingga kehilangan mesin. Karena itu, pembangunan kolam labuh menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi armada sekaligus menjaga keberlangsungan mata pencaharian nelayan,” tegas Cacu.

Nelayan berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan kolam labuh dan menjamin ketersediaan pasokan solar agar aktivitas perikanan di pesisir selatan Cianjur dapat berlangsung lebih aman, efisien, serta mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir. (DJ)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *