Kemarau Ekstrem Ancam Produksi Pangan, DTPHP Cianjur Optimalkan Pompa dan Gilir Air

Berita, Cianjur17 Dilihat
banner 468x60

detakpublik,CIANJUR — Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur meningkatkan status mitigasi kekeringan pada musim tanam April–September 2026. Penurunan debit air irigasi secara drastis hingga 50 persen mulai mengancam ratusan hektar lahan persawahan di wilayah hilir.

Puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus 2026 berpotensi menekan produktivitas padi daerah. Penurunan pasokan air paling signifikan tercatat di Daerah Irigasi (DI) Cihea yang menyuplai lahan pertanian di Kecamatan Ciranjang, Bojongpicung, dan Haurwangi.

banner 336x280

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DTPHP Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar, mengonfirmasi bahwa dampak kekeringan telah memukul area persawahan di wilayah hilir, salah satunya Desa Sindangsari, Kecamatan Ciranjang.

“Hasil evaluasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menunjukkan debit air di Bendungan Utama Cisuru anjlok dari kondisi normal 7.000 liter per detik menjadi 3.400 liter per detik,” ujar Wahyu di Cianjur, Senin (27/7/2026).

Selain faktor alam, DTPHP mengidentifikasi krisis air di tingkat petani diperparah oleh kendala teknis dan manajerial. Alokasi air irigasi kerap terserap untuk kebutuhan non-pertanian seperti perikanan dan permukiman, ditambah maraknya penyumbatan sampah plastik di saluran sekunder maupun tersier.

Guna mengamankan produksi pangan harian, DTPHP bersama BBWS Citarum, unsur TNI-Polri (Babinsa/Bhabinkamtibmas), serta Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai menerapkan sejumlah langkah darurat.

Sistem gilir-giring distribusi air resmi diberlakukan sejak 6 Juli 2026 dengan prioritas utama kawasan hilir (golongan III). Langkah ini disandingkan dengan pemetaan potensi kekeringan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), optimalisasi irigasi perpompaan, serta penyesuaian ulang jadwal tanam.

Meski demikian, implementasi teknis di lapangan masih menghadapi kendala vandalisme. Pengawasan di bangunan pintu air kini diperketat menyusul ditemukannya perusakan gembok kontrol oleh oknum tidak bertanggung jawab saat skema gilir-giring berlangsung.

“Kami menginstruksikan petugas kontrol untuk memperketat pengawasan di pintu air dan mengajak masyarakat bergotong-royong membersihkan saluran irigasi dari sampah. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar dampak kemarau ekstrem ini tidak meluas,” tegas Wahyu.

Langkah respons cepat Pemkab Cianjur ini merujuk pada Surat Menteri Pertanian RI Nomor: B-73/TI.050/M/03/2026 dan Surat Prediksi Musim BMKG terkait ancaman iklim terhadap ketahanan pangan nasional sepanjang 2026.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *