Krisis Kedelai Ancam Industri Tahu-Tempe Cianjur, Polisi Awasi Distribusi dan Antisipasi Penimbunan

Berita, Cianjur22 Dilihat
banner 468x60

detakpublik– Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang memicu kenaikan harga kedelai impor mulai memberikan tekanan serius terhadap industri tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keberlangsungan usaha para perajin, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas pasokan pangan masyarakat.

Menyikapi situasi itu, Polres Cianjur meningkatkan pengawasan terhadap distribusi kedelai dengan menerjunkan tim khusus guna mencegah praktik penimbunan maupun spekulasi harga yang dapat memperburuk kondisi pasar.

banner 336x280

Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi menegaskan, kepolisian akan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti sengaja menahan pasokan untuk meraup keuntungan di tengah kesulitan yang dialami pelaku usaha.

“Kami akan menurunkan tim dan melakukan penegakan hukum apabila ditemukan pihak yang melakukan tindakan dengan orientasi keuntungan sepihak sehingga harga bahan baku kedelai menjadi tidak ekonomis. Jangan sampai ada yang menimbun,” ujar Alexander, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, pengawasan dilakukan untuk memastikan rantai distribusi berjalan normal dan pasokan bahan baku tetap tersedia bagi para perajin. Polres juga membuka ruang pengaduan bagi masyarakat maupun pelaku usaha yang menemukan indikasi penimbunan atau permainan harga di lapangan.

“Apabila ditemukan pelanggaran, akan kami tindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sementara itu, tekanan ekonomi akibat mahalnya kedelai impor mulai dirasakan langsung oleh para perajin tahu dan tempe. Sejumlah usaha dilaporkan mengurangi kapasitas produksi, bahkan ada yang menghentikan operasional karena tingginya biaya produksi.

Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, mengatakan harga kedelai saat ini telah mencapai sekitar Rp10.500 per kilogram. Kenaikan tersebut membuat biaya produksi melonjak, sementara kemampuan pasar menyerap produk justru mengalami penurunan.

Menurut Hugo, persoalan yang dihadapi para perajin saat ini terjadi dari dua sisi sekaligus, yakni kenaikan harga bahan baku dan melemahnya daya beli masyarakat.

“Kalau harga bahan baku naik tetapi permintaan pasar ikut meningkat, kondisi itu masih bisa diatasi. Yang menjadi persoalan sekarang, bahan baku sulit diperoleh dan harganya mahal, sementara permintaan pasar justru menurun,” katanya.

Kondisi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi pelaku usaha kecil yang selama ini bergantung pada kedelai impor. Di satu sisi biaya operasional terus meningkat, sementara di sisi lain pendapatan menurun akibat lesunya pasar.

Kopti Cianjur menilai diperlukan langkah cepat dari pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga keberlangsungan industri tahu dan tempe yang menjadi salah satu penopang ekonomi kerakyatan. Bentuk intervensi yang diharapkan antara lain stabilisasi pasokan dan harga kedelai, kemudahan akses bahan baku, serta dukungan kebijakan yang mampu meringankan beban pelaku usaha.

Tanpa langkah konkret dalam waktu dekat, para perajin khawatir tekanan yang terus berlangsung akan memicu gelombang penghentian produksi yang lebih luas dan berdampak pada ketersediaan pangan serta lapangan kerja di daerah.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *