Tugu Knalpot Ayam Pelung Diresmikan Kapolda Jabar, Soroti Fenomena Knalpot Brong dan Peran Lingkungan

Berita, Cianjur21 Dilihat
banner 468x60

detakpublik, CIANJUR — Tugu Knalpot Ayam Pelung di Jalan Dr. Muwardi, Kelurahan Muka, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, resmi diresmikan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Dr. Pipit Rismanto, Rabu (16/9/2026).

Peresmian monumen tersebut tidak sekadar menjadi penanda kawasan, tetapi juga dimanfaatkan Kapolda Jabar sebagai momentum untuk mengajak berbagai pihak melihat persoalan penggunaan knalpot brong di kalangan sebagian remaja dari sisi sosial dan perilaku.

banner 336x280

Pipit menilai, penggunaan knalpot dengan suara bising oleh sebagian remaja dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan perhatian maupun pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

“Monumen ini juga bagian daripada perilaku menyimpang yang dilakukan oleh adik-adik remaja kita untuk mendapatkan pengakuan kehebatannya,” ujar Pipit dalam sambutannya.

Menurut dia, perilaku tersebut tidak dapat semata-mata dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi perlu ditelusuri faktor yang melatarbelakanginya. Kurangnya perhatian dari lingkungan, termasuk keluarga, disebut menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji lebih jauh.

“Karena kurang perhatian tadi. Kita yang generasi lebih tua tidak suka memperhatikan mereka, maka yang terjadi dia nyari perhatiannya dengan menggeblar-geblarkan suara,” katanya.

Pipit menegaskan, persoalan perilaku menyimpang pada remaja bukan hanya menjadi ranah kepolisian. Pembentukan karakter dan lingkungan yang kondusif membutuhkan keterlibatan orang tua, sekolah, pemerintah, serta masyarakat.

“Yang pertama adalah peran orang tua itu penting, yang kedua peran guru di sekolah, yang ketiga adalah peran kita sebagai pemerintah, yang keempat adalah peran lingkungan,” ujarnya.

Lingkungan yang dimaksud, lanjut Pipit, mencakup berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh pemuda, ulama, tokoh masyarakat hingga elemen lainnya yang memiliki peran dalam memberikan contoh dan membangun ruang tumbuh yang positif bagi generasi muda.

Ia juga mendorong pendekatan akademis dan kriminologis dalam memahami berbagai bentuk perilaku menyimpang. Menurutnya, sebuah tindakan tidak muncul tanpa sebab sehingga faktor yang memengaruhinya perlu dipetakan secara lebih mendalam.

“Tidak ada sebuah kejahatan itu berdiri sendiri. Pasti ada faktor-faktor yang mempengaruhi,” kata Pipit.

Karena itu, penelitian akademis dinilai penting untuk mengidentifikasi akar persoalan sosial di masyarakat. Kajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan dasar yang lebih kuat dalam menentukan bentuk pencegahan dan intervensi yang tepat.

Selain persoalan sosial remaja, Pipit juga menekankan pentingnya kemampuan kepolisian menyesuaikan diri dengan perubahan karakter dan dinamika generasi. Menurut dia, perubahan generasi dari milenial, Gen Z hingga generasi Alpha menuntut pola pendekatan yang terus berkembang.

“Prinsip kerja kami di antaranya adaptif. Kita harus mampu menyesuaikan diri kapan pun, di mana pun, kepada siapa pun, dan dalam situasi apa pun,” ujarnya.

Prinsip adaptif tersebut, kata Pipit, perlu berjalan beriringan dengan sikap responsif. Setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat harus dihadapi secara cepat, tepat dan berkualitas.

Peresmian Tugu Knalpot Ayam Pelung itu turut dihadiri jajaran Pejabat Utama (PJU) Polda Jawa Barat, PJU Polres Cianjur, Wakil Bupati Cianjur Aby Ramzi, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Cianjur.

Keberadaan monumen tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa penanganan persoalan remaja membutuhkan pendekatan lintas sektor. Tidak hanya melalui penegakan aturan, tetapi juga melalui perhatian keluarga, pendidikan, keteladanan lingkungan dan pemahaman terhadap faktor sosial yang melatarbelakangi perilaku mereka.(DJ)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *