Sempat Viral Dianiaya di Libya, PMI Asal Cianjur Akhirnya Berhasil Dipulangkan Disambut Bupati di Pendopo

Berita, Cianjur15 Dilihat
banner 468x60

detakpublik CIANJUR – Ai Juariah (48), Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural asal Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah menjalani 14 bulan penuh penderitaan di Libya. Kepulangannya pada Senin (13/7/2026) menandai berakhirnya proses evakuasi yang melibatkan pemerintah pusat, perwakilan Indonesia di luar negeri, pemerintah daerah, dan aparat kepolisian.

Ai tiba di Pendopo Cianjur sekitar pukul 09.00 WIB dan disambut langsung oleh Bupati Cianjur, dr. Muhammad Wahyu. Proses pemulangannya difasilitasi melalui koordinasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Libya, serta Polres Cianjur.

banner 336x280

Kasus Ai sebelumnya menjadi sorotan nasional setelah video yang memperlihatkan dirinya menangis dengan wajah berlumuran darah sambil memohon pertolongan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi viral di media sosial.

Di hadapan jajaran Pemerintah Kabupaten Cianjur, Ai mengisahkan berbagai penderitaan yang dialaminya selama bekerja di Libya melalui jalur nonprosedural. Ia mengaku beberapa kali berpindah majikan, mengalami penelantaran, tidak memperoleh makanan yang layak, hingga menjadi korban kekerasan fisik.

“Saya sudah bekerja di sana lebih dari setahun. Berkali-kali pindah majikan, pernah diabaikan, tidak diberi makan, dan mengalami kekerasan. Dari sekian banyak video yang saya unggah, akhirnya yang terakhir mendapat respons,” ujar Ai.

Ai mengaku tidak mengetahui secara rinci proses diplomasi yang dilakukan hingga dirinya dapat dipulangkan. Ia hanya mengetahui bahwa pihak agensi di Libya menjemputnya sebelum proses kepulangan ke Indonesia dilaksanakan. Ia pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelamatannya.

Bupati Cianjur, dr. Muhammad Wahyu, mengatakan proses pemulangan Ai berlangsung cukup kompleks karena harus menghadapi situasi keamanan dan politik Libya yang belum stabil akibat konflik berkepanjangan dan dualisme pemerintahan.

“Proses ini membutuhkan perhatian khusus karena warga kami berada di wilayah konflik. Alhamdulillah, berkat koordinasi lintas instansi, Ibu Ai akhirnya dapat kembali dengan selamat. Kami berharap tidak ada lagi warga Cianjur yang mengalami peristiwa serupa,” katanya.

Sementara itu, Kepala BP3MI Jawa Barat, Kombes Pol. Singgih Hermawan, menegaskan keberhasilan pemulangan Ai merupakan bukti hadirnya negara dalam memberikan perlindungan kepada warga negara Indonesia yang menghadapi persoalan di luar negeri.

Menurutnya, kasus tersebut menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan keberangkatan pekerja migran melalui jalur nonprosedural. Bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur, BP3MI akan mengintensifkan sosialisasi hingga tingkat desa, memperluas akses informasi mengenai mekanisme penempatan resmi, serta memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum dalam menindak pihak-pihak yang diduga terlibat dalam pemberangkatan pekerja migran secara ilegal, terutama ke negara-negara dengan tingkat risiko keamanan tinggi.

Kepulangan Ai Juariah sekaligus menjadi pengingat bahwa bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi dapat menempatkan pekerja pada risiko eksploitasi, kekerasan, dan keterbatasan akses perlindungan hukum. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memastikan seluruh proses penempatan dilakukan melalui jalur yang legal agar hak, keselamatan, dan perlindungan sebagai pekerja migran tetap terjamin.(DJ)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *